Perjuangan Pensiunan Guru Usai Tabungan Habis karena Penipuan Investasi Annisa Pratiwi, December 3, 2025January 9, 2026 Perjuangan Pensiunan Guru yang Kehilangan Tabungan Akibat Penipuan Investasi Mushoddiq Memulai Kembali Setelah Tabungan Pensiun Hilang Kisah Mushoddiq (65), pensiunan guru sejarah, menunjukkan bagaimana penipuan investasi bisa menghancurkan kondisi ekonomi keluarga. Tabungan yang ia kumpulkan selama puluhan tahun lenyap setelah ia menanam modal pada investasi kripto ilegal. Situasi itu memaksanya memulai hidup dari awal, bahkan di usia lanjut. Untuk bangkit, Mushoddiq memilih berdagang koran dan majalah anak di Halte Transjakarta Bundaran HI, Jakarta Pusat. Aktivitas ini bukan hanya membantunya menghidupi keluarga, tetapi juga memberinya kesempatan kembali berinteraksi dengan banyak orang setiap hari. Perjalanan Karier Sebelum Terjerat Investasi Ilegal Mushoddiq pensiun sebagai guru sejarah pada 2016. Namun, ia belum ingin sepenuhnya berhenti bekerja. Karena itu, ia menerima tawaran menjadi marketing kredit PNS dan pensiunan di sebuah bank swasta. Selama tiga tahun, ia menjalani pekerjaan tersebut dengan baik. Namun, pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Dunia perbankan terpukul dan bisnis kredit menurun drastis. Kondisi itu membuat Mushoddiq kehilangan pekerjaannya dan terpaksa menganggur di rumah. Investasi Kripto Bodong Menghabiskan Seluruh Tabungan Saat menganggur, Mushoddiq menerima tawaran investasi kripto yang tampak menguntungkan. Ia percaya pada promosi manis yang disampaikan dan akhirnya menanamkan modal cukup besar. Namun, setelah berjalan, Mushoddiq baru menyadari bahwa perusahaan tersebut tidak terdaftar dan ternyata menjalankan skema ilegal. Ia mengaku tidak memahami dunia kripto. Dengan latar belakang pendidikan sejarah, ia merasa wajar tidak memahami detail teknis investasi digital. Ketidaktahuan itulah yang akhirnya membuatnya mudah percaya pada iming-iming keuntungan. Kerugian besar itu membuat ekonomi keluarganya terpuruk. Mushoddiq harus memikirkan cara baru untuk mencari nafkah. Bangkit Lewat Lapak Koran dan Majalah Anak Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan pekerjaan, Mushoddiq akhirnya memilih membuka lapak bacaan. Ia melihat peluang ketika sering mengamati pedagang koran di halte Transjakarta. Selain itu, minatnya pada dunia literasi sejak kecil semakin menguatkan pilihannya. Dengan modal awal sekitar Rp400.000, Mushoddiq memulai usahanya. Setiap hari ia datang pagi, menata lapak biru kecilnya, lalu menawarkan majalah anak dan koran kepada penumpang Transjakarta. Aktivitas itu perlahan membantu kondisi ekonomi keluarganya kembali stabil. Baginya, usaha kecil itu tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga wujud tekad untuk bertahan dan bangkit setelah mengalami kerugian besar. Outdoors