Dibuat Panik, Kesepian, hingga Tergiur Untung Cepat, Begini 5 Modus Penipuan Digital Menurut OJK Annisa Pratiwi, January 18, 2026January 22, 2026 OJK Kalimantan Tengah Membeberkan Lima Modus Psikologis Penipuan Digital OJK Menjelaskan Pelaku Penipuan Memanfaatkan Kondisi Emosional Korban PALANGKA RAYA – Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Tengah mengungkap bahwa pelaku penipuan digital secara aktif memanfaatkan kondisi psikologis korban untuk melancarkan aksinya. Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menyampaikan bahwa penipu tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memainkan emosi dan kelemahan manusia. Primandanu menjelaskan hal tersebut saat ditemui di Palangka Raya, Selasa (13/1/2026). Ia menegaskan bahwa pemahaman terhadap pola psikologis menjadi kunci penting agar masyarakat tidak mudah terjebak penipuan di media sosial dan platform digital. OJK Mengidentifikasi Ketidaktahuan sebagai Celah Awal Penipuan Primandanu menyebut ketidaktahuan korban sebagai modus pertama yang paling sering digunakan. Pelaku biasanya menyamar sebagai petugas pajak, kepolisian, atau lembaga pemerintah lain untuk menawarkan layanan tertentu. Dalam kondisi kurang informasi, korban cenderung langsung percaya dan mengikuti instruksi pelaku. Situasi tersebut semakin berbahaya ketika pelaku menggunakan istilah resmi dan identitas palsu yang terlihat meyakinkan. Akibatnya, korban tidak sempat melakukan verifikasi sebelum mengambil keputusan finansial. OJK Menilai Kepanikan Mempermudah Pelaku Mengontrol Korban Modus kedua muncul melalui penciptaan rasa panik dan takut. Pelaku kerap menyampaikan kabar darurat, seperti anggota keluarga mengalami kecelakaan atau masalah hukum. Informasi mendesak itu membuat korban kehilangan kendali emosi dan bertindak secara impulsif. Dalam kondisi tertekan, korban lebih mudah dipengaruhi untuk mentransfer uang atau memberikan data pribadi tanpa pertimbangan matang. OJK Menyoroti Kesepian dan Keserakahan sebagai Sasaran Manipulasi Primandanu menjelaskan bahwa kesepian menjadi modus ketiga yang sering muncul dalam kasus love scam. Pelaku membangun hubungan emosional secara intens, lalu secara bertahap meminta bantuan finansial. Ia menekankan bahwa identitas digital sangat mudah dimanipulasi sehingga masyarakat harus lebih waspada. Modus keempat berkaitan dengan keserakahan atau keinginan memperoleh keuntungan cepat. Pelaku menawarkan investasi tidak masuk akal, pinjaman murah, atau imbal hasil tinggi dalam waktu singkat. Menurut Primandanu, tawaran tersebut bertentangan dengan prinsip dasar keuangan. OJK Mengingatkan Modus Hiburan Menjebak Korban Lewat Harga Murah Modus terakhir memanfaatkan kebutuhan hiburan, seperti promo wisata murah atau diskon belanja ekstrem. Harga yang jauh di bawah pasaran menciptakan ilusi kesempatan langka, padahal itu merupakan jebakan penipuan. Primandanu mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi, tidak terburu-buru mengambil keputusan, serta meningkatkan literasi keuangan agar terhindar dari penipuan digital. Outdoors modus penipuan digital OJK