Polisi Selidiki Dugaan Penipuan Fake BTS yang Kirim SMS Phishing Annisa Pratiwi, August 8, 2026 Jakarta – Polda Metro Jaya menyelidiki informasi mengenai dugaan penipuan menggunakan perangkat fake BTS yang kembali beredar di media sosial. Modus tersebut diduga memanfaatkan sinyal palsu untuk mengirimkan SMS berisi tautan mencurigakan ke ponsel warga. Informasi itu muncul setelah seorang pengguna melaporkan ponselnya tiba-tiba kehilangan sinyal. Tidak lama kemudian, pengguna tersebut menerima SMS yang memuat tautan mencurigakan. Sejumlah pengguna lain kemudian mengaku mengalami kejadian serupa. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya telah mengetahui informasi tersebut dan masih melakukan pendalaman. “Masih didalami Direktorat Siber terhadap informasi ini sudah diketahui kemarin Selasa,” ujar Budi kepada CNBC Indonesia, Rabu (29/7/2026). Fake BTS Memancarkan Sinyal Palsu untuk Mengirim SMS Perangkat fake BTS bekerja dengan memancarkan sinyal yang menyerupai jaringan menara BTS milik operator resmi. Perangkat tersebut kemudian dapat berkomunikasi dengan ponsel yang berada di sekitar lokasi dan mengirimkan pesan SMS. Pelaku dapat memanfaatkan teknik tersebut untuk menyebarkan pesan penipuan tanpa menggunakan jaringan operator resmi. Kondisi ini membuat modus tersebut lebih sulit dideteksi dan dilacak. SMS yang dikirimkan pelaku biasanya memuat tautan menuju situs phishing. Pelaku kemudian berupaya mengarahkan korban agar memasukkan data pribadi, informasi akun, atau kredensial ke situs palsu tersebut. Fake BTS Dapat Mencegat SMS OTP Korban Pengamat keamanan siber Alfons Tanujaya dari Vaksinkom sebelumnya menjelaskan bahwa teknologi fake BTS juga dapat dimanfaatkan untuk mencegat pesan singkat, termasuk kode one-time password atau OTP. Menurut Alfons, kelemahan pada sistem signaling operator atau SS7 dapat memungkinkan pelaku memanipulasi identitas pengirim SMS. Akibatnya, pesan berbahaya dapat terlihat seolah-olah berasal dari nomor resmi, termasuk nomor yang digunakan lembaga keuangan. Pelaku juga dapat menggunakan teknik man-in-the-middle untuk mencegat komunikasi. Dalam skenario tersebut, pelaku berpotensi membaca atau memodifikasi pesan sebelum meneruskannya kepada korban. Pelaku Mengarahkan Korban ke Situs Phishing Setelah mengirim SMS dengan identitas pengirim yang dipalsukan, pelaku dapat menyisipkan tautan menuju situs phishing. Situs tersebut biasanya dibuat menyerupai halaman resmi untuk membuat korban percaya dan memasukkan kredensial. Alfons mengingatkan masyarakat agar tidak langsung membuka tautan yang masuk melalui SMS, meskipun pesan tersebut terlihat berasal dari pihak resmi. Ia menyarankan pengguna mengakses situs atau layanan resmi dengan mengetik alamatnya secara langsung. Langkah tersebut dapat mengurangi risiko korban memasukkan data ke halaman palsu. Polda Metro Jaya kini masih mendalami informasi mengenai dugaan penggunaan fake BTS tersebut. Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap SMS mencurigakan, terutama pesan yang meminta pengguna membuka tautan atau memberikan informasi pribadi. Outdoors penipuan fake BTS