Psikolog Ubaya Ungkap Pola Manipulasi dalam Kasus Child Grooming Annisa Pratiwi, January 18, 2026January 22, 2026 Psikolog Universitas Surabaya Mengungkap Pola Manipulasi Sistematis dalam Kasus Child Grooming Psikolog Menjelaskan Kasus Child Grooming Berkembang Lewat Proses Bertahap SURABAYA – Psikolog Universitas Surabaya mengungkap bahwa kasus child grooming berkembang melalui proses manipulasi bertahap dan tidak terjadi secara spontan. Ramainya perbincangan di media sosial terkait dugaan child grooming yang dialami seorang artis Indonesia membuka kesadaran publik mengenai pola kekerasan seksual yang kerap tersembunyi di balik relasi penuh perhatian. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, menjelaskan bahwa pelaku secara sadar membangun hubungan emosional dengan korban untuk menciptakan ketergantungan. Proses tersebut membuat korban perlahan kehilangan kemampuan menolak dan sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Psikolog Mengidentifikasi Kerentanan Psikologis sebagai Pintu Masuk Pelaku Yuan menjelaskan bahwa pelaku biasanya memilih korban dengan kerentanan psikologis tertentu. Ia merujuk pada Sexual Grooming Model yang dikemukakan peneliti Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic, yang menggambarkan bagaimana pelaku memanfaatkan kondisi emosional korban sebagai celah awal. Menurutnya, anak atau remaja yang penurut, kurang pengawasan orangtua, membutuhkan afeksi, mengalami kesepian, atau memiliki masalah perilaku lebih rentan menjadi sasaran. Pada tahap ini, pelaku memposisikan diri sebagai figur aman yang dianggap paling memahami korban. Psikolog Menyebut Pelaku Membangun Akses dan Mengisolasi Korban Setelah menentukan target, pelaku mulai meningkatkan intensitas interaksi untuk memperoleh akses penuh. Yuan menyebut pelaku secara perlahan menjauhkan korban dari lingkungan terdekat, seperti keluarga dan teman sebaya. Dalam fase ini, pelaku tampil sangat perhatian dan suportif agar korban merasa bergantung secara emosional. Kepercayaan yang terbentuk membuat korban semakin sulit membedakan perhatian tulus dan manipulasi. Akibatnya, pelaku dapat mengontrol korban tanpa disadari, sekaligus menurunkan kewaspadaan orang-orang di sekitar korban. Psikolog Mengingatkan Dampak Jangka Panjang Child Grooming Yuan menegaskan bahwa child grooming dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental dan perkembangan psikologis korban. Oleh karena itu, ia mendorong orangtua dan lingkungan terdekat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, terutama jika anak terlihat menarik diri atau terlalu bergantung pada satu sosok tertentu. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap pola manipulasi menjadi langkah awal penting untuk pencegahan dan perlindungan anak dari kekerasan seksual berbasis relasi. Outdoors pola manipulasi child grooming