Mengungkap Praktik Kejahatan Berkedok Aplikasi Kencan di Medan Annisa Pratiwi, April 15, 2026 Tim detikSumut Mengungkap Jaringan Kejahatan yang Menyamar di Aplikasi Kencan Medan Tim detikSumut menemukan prostitusi online, penipuan, dan pornografi beroperasi lewat akun anonim Aplikasi kencan yang mudah diakses memang memudahkan orang berkenalan, tetapi tim detikSumut menemukan sisi gelap yang jauh lebih berbahaya di Medan. Saat melakukan penelusuran di tiga titik di Kota Medan dan berinteraksi dengan lebih dari 30 akun, tim mendapati rangkaian kejahatan yang tidak berhenti pada prostitusi online, melainkan juga merambah penipuan, pengancaman, dan pemerasan. Temuan paling mencolok muncul dari praktik prostitusi online. Dari akun anonim yang digunakan dalam percobaan itu, tim menerima berbagai tawaran jasa seksual, baik dari lawan jenis maupun sesama jenis. Sejumlah akun menawarkan layanan secara mandiri, sementara akun lain mengaku berada di bawah koordinasi admin atau pengelola hotel. Tarif yang muncul pun beragam, mulai dari Rp350 ribu hingga Rp1 juta per jam. Tim juga menemukan ruang tawar-menawar dalam transaksi tersebut. Sebagian pelaku berkomunikasi langsung dengan calon pelanggan, sedangkan sebagian lain memakai perantara yang mereka sebut koordinator. Selain itu, beberapa akun menawarkan video mesum dan panggilan video tak senonoh dengan harga yang berubah sesuai durasi dan jumlah kontennya. Di tengah praktik itu, catatan Polda Sumut menunjukkan bahwa polisi menangani 31 kasus pornografi sejak 2024 hingga 2026. Rinciannya, 18 kasus terjadi pada 2024, 11 kasus pada 2025, dan dua kasus sudah masuk pada 2026. Angka itu memperlihatkan bahwa persoalan ini terus bergerak dan belum menunjukkan tanda melambat. Tim detikSumut mendapati ancaman dan pemerasan setelah pelaku menagih uang dari korban Tim detikSumut juga bertemu dengan dua penyedia jasa yang mengaku terdorong kondisi ekonomi. Bunga, bukan nama sebenarnya, menyebut ia terpaksa menjalani aktivitas itu untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti kos dan listrik. Sementara itu, Mawar, juga nama samaran, mengaku memilih jalan serupa karena tekanan ekonomi dan kondisi keluarga yang tidak harmonis. Dari situ, tim menemukan bahwa aplikasi kencan tidak hanya menjadi ruang prostitusi, tetapi juga ladang penipuan. Salah satu modus yang muncul adalah identitas palsu, termasuk akun yang mendaftar sebagai perempuan padahal pelakunya pria. Ada pula akun yang menipu dengan meminta uang panjar, lalu menghilang setelah menerima pembayaran. Bahaya semakin besar ketika pelaku memperoleh nomor kontak korban. Saat itu, mereka dapat melanjutkan dengan ancaman dan pemerasan. Dalam salah satu percobaan, seorang penyedia jasa menuntut uang meski layanan tidak jadi digunakan. Pelaku lalu mengancam akan menyasar keluarga, menyebarkan nomor, dan membuat keributan di lokasi korban agar korban malu. Dalam pesan singkat, pelaku bahkan mengaku punya hubungan dengan kepolisian. Ia menulis, “Abangku Polda,” untuk menekan dan menakuti korban. Temuan lapangan ini menegaskan bahwa aplikasi kencan dapat membuka pintu bagi rangkaian kejahatan yang jauh lebih luas dari sekadar pertemuan daring. Outdoors kejahatan berkedok aplikasi kencan di Medan